Template Information

Home » » PROPOSAL PENELITIAN - PENERAPAN SELF ASESSMENT PADA KONSEP KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN

PROPOSAL PENELITIAN - PENERAPAN SELF ASESSMENT PADA KONSEP KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN


PENERAPAN SELF ASSESSMENT UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA PRAKTIKUM KONSEP KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (KSP)
(penelitian kelas di kelas XI IPA SMAN 20 Garut)


A.                PENDAHULUAN
Penelitian menunjukan bahwa siswa menemukan kesulitan dalam memahami konsep-konsep dalam topik kimia (Grnett dan Kackling, dalam Onder & Geban, 2006:165). Ilmu kimia memiliki konsep-konsep yang bersifat kompleks dan abstrak. Beberapa peneliti mengindikasikan bahwa kimia dianggap sebagai subjek abstrak dan sulit untuk dipelajari oleh banyak siswa (Nieswandt, et.al. dalam Onder & Geban, 2006:166). Penemuan alasan sulitnya konsep kimia adalah kurangnya pemahaman konsep kimia secara utuh. Padahal tujuan pengajaran  kimia adalah membantu siswa mengembangkan pemahaman konsep-konsep. Maka dari itu, pentingnya menemukan pembelajaran kimia yang dapat mendukung belajar bermakna (Nieswandt, et.al. dalam Onder & Geban, 2006:166).
Pembelajaran kimia di Indonesia pada umumnya, menuntut siswa lebih banyak untuk mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip kimia. Hal ini menyebabkan munculnya kejenuhan siswa belajar kimia. Dengan demikian belajar seperti itu juga menyebabkan siswa tidak mampu menerapkan konsep-konsep kimia dalam kehidupan sehari-hari, apalagi memiliki kompetensi yang diharapkan dalam standar isi KTSP (BSNP, 2006). Untuk mencapai kompetensi tersebut diperlukan paradigma baru dalam belajar kimia, yaitu memberikan sejumlah pengalaman kepada siswa untuk menguasai kimia dan membimbing mereka untuk menggunakan pengetahuan kimia tersebut (Gallanger dalam Liliasari, 2007). Dan menurut Zuharman (2000) perubahan paradigma pendidikan dari teacher centred kearah student centred tidak hanya membawa dampak terhadap metode dan aktifitas belajar, akan tetapi juga terhadap cara penilaian hasil belajar. Sedangkan menurut Firman (2000) Ditinjau dari segi pendidikan, pengalaman, interaksi dengan siswa dalam kelas, maka guru menempati posisi penting untuk menilai keefektifan program pengajaran yang dikelolanya. Adanya reformasi dalam bidang pendidikan membuat para pendidik harus mengevaluasi dan menata kembali cara mereka menjalankan proses pendidikan. Guru IPA mempunyai kewajiban untuk melakukan penilaian secara berkala mengenai aspek hasil, proses, serta sarana penunjang dari program pengajaran. Pergeseran fokus pembelajaran dari guru ke murid (learner-centered) dan lifelong learning adalah perubahan sifat dari tujuan pembelajaran dewasa ini (Marzano,Pickering & McTighe, 1993). Self-assessment merespon perubahan ini dengan sangat baik. Dengan mengevaluasi diri, tentu saja fokusnya bukan lagi kepada guru, tetapi kepada murid.
Menurut Laurie Brady dan Kerry Kennedy (2005) : “self-assessment is a process by which student develop insight into their learning, and has become increasingly emphasized with the development of outcome-based education.”
Bagian pertama dari definisi di atas menekankan bahwa self assessment adalah sebuah proses, yang melibatkan murid sebagai agen utamanya, dimana ia membangun wawasan terhadap proses pembelajaran mereka sendiri. Ini berbeda dari pandangan tradisional pendidikan menaruh murid dalam posisi pasif, atau penerima dari pengajaran guru termasuk dalam hal menilai hasil belajar mereka. Murid jarang sekali dilibatkan secara sadar dalam proses pemberian umpan balik terhadap hasil belajar mereka sendiri. Namun, sudah saatnya pandangan ini diganti. Murid sebagai salah satu pemeran utama berlangsungnya proses pendidikan seharusnya juga dilibatkan secara aktif dalam pengambilan umpan balik atas pencapaian suatu tujuan pembelajaran. Selain itu, definisi di atas juga menyebutkan bahwa self-assessment mulai ditekankan penggunaannya seiring perkembangan bidang pendidikan yang menggunakan outcome atau tujuan instruksional sebagai dasar perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran mereka.
Menurut Zulharman (2007) self assessment adalah sebuah proses dimana pelajar memiliki tanggung jawab untuk menilai hasil belajarnya sendiri. Penggunaan metode penilaian ini untuk formatif ditujukan untuk memperoleh feedback bagi peserta didik sehingga dapat meningkatkan proses dan hasil belajar. Dan bentuk evaluasi self-assesment ini dirasa cocok untuk meningkatkan Keterampilan Proses Sains siswa, karena Keterampilan proses sains adalah keterampilan khusus yang mempermudah belajar ilmu pengetahuan, mengaktifkan siswa, mengembangkan rasa tanggung jawab siswa dalam pembelajaran mereka sendiri, meningkatkan permanen pembelajaran, serta mengajari mereka metode penelitian (Carey, et.al. dalam Karamustafaoğlu, 2011:27 ).
Pengembangan keterampilan proses sains mengaktifkan siswa untuk membangun dan memecahkan masalah, berpikir kritis, memutuskan dan menemukan jawaban rasa ingin tahu mereka, daripada memiliki siswa untuk menghafal konsep-konsep (Rehorek, et.al. dalam Karamustafaoğlu, 2011:28). Beberapa pendidik Sains berpendapat bahwa mengajar siswa fakta Sains penting untuk mengembangkan keterampilan proses Sains mereka sehingga mereka dapat belajar pengetahuan ini pada mereka sendiri (Young dalam Mei, 2007:3). Dan metode praktikum dirasa sangat cocok untuk untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
Rustaman (2003) menyatakan bahwa praktikum merupakan bagian integral dari pembelajaran sains. Melalui kegiatan praktikum hampir semua jenis keterampilan proses dikembangkan dan digunakan. Dengan dilaksanakannya metode praktikum dalam pengajaran sains, maka keterampilan proses siswa dapat dicapai secara bertahap (Rustaman, 2003). Praktikum memiliki kedudukan yang penting dalam pembelajaran sains. Arifin et.al (2003) mengemukakan bahwa metode praktikum merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Salah satu konsep kimia adalah kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp). Berdasarkan kurikulum saat ini yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), kelarutan dan hasil kali kelarutan merupakan konsep yang disajikan pada siswa kelas XI SMA/MA IPA, standar kompetensi konsep ini yaitu memahami sifat-sifat larutan, metode pengukuran, dan terapannya, dengan kompetensi dasar yaitu memprediksikan terjadinya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan hasil kali kelarutan. Kompetensi dasar tersebut akan mudah tercapai jika siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran baik dengan cara berkomunikasi maupun melalui praktikum.
Kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) merupakan konsep yang menyatakan prinsip, konsep yang abstrak dengan contoh konkret dan konsep yang menyatakan simbol sehingga dalam memahami konsep tersebut dibutuhkan beberapa pemahaman prasyarat, diantaranya adalah konsep larutan, kesetimbangan kimia, prinsip Le Chatelier’s, kimia larutan dan persamaan reaksi kimia.  siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan karena siswa kurang dapat mengolah informasi atau konsep sebelumnya yang mereka dapat.
Berdasarkan  uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis merasa perlu dilakukannya penelitian yang berjudul: Penerapan Self Assessment Untuk Mengembangkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMA Negeri 20 Garut pada Konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).

B.             Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka pokok permasalahan  utama pada penelitian ini :
1.      Bagaimanakah proses pelaksanaan self assessment pada praktikum konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp)?
2.      Bagaimanakah pengembangan keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan self assessment pada praktikum konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp)?
3.      Bagaimanakah tanggapan siswa mengenai penerapan self assessment pada praktikum konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp)?

C.    Tujuan Penelitian
      Tujuan utama pada penelitian ini adalah untuk :
1.      Menjelaskan penerapan self assessment pada praktikum  konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).
2.      Mengukur keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan self assessment pada praktikum konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) dan hasil kali kelarutan (Ksp).
3.      Menganalisis tanggapan siswa kelas XI IPA 3 SMAN 20 Garut dengan menggunakan self assessment pada praktikum konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).
D.     Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1.      Bagi guru, dapat dijadikan sebagai masukan dalam memberikan alternatif-alternatif evaluasi dalam kegiatan praktikum di sekolah sehingga proses kegiatan praktikum akan menjadi lebih efektif dan efisien dalam meningkatkan minat para siswa dalam mempelajari ilmu kimia.
2.      Bagi Siswa, dapat ikut berperan aktif dalam proses praktikum maupun dengan kelompok diskusinya dan melibatkan siswa secara aktif dalam proses penilaian kinerja mereka, serta dapat mengembangkan keterampilan proses sains yang dimiliki oleh siswa. Selain itu siswa juga dapat meningkatkan minatnya dalam belajar kimia yang mengarah pada peningkatan prestasi belajar.
3.      Bagi Peneliti, untuk menyelidiki keefektifan penerapan self assessment sebagai alternatif penilaian yang akan diterapkan dalam praktikum konsep kelarutan dan hasilkali kelarutan (Ksp)
4.      Bagi sekolah, diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta efektifitas guru dalam mengajar kimia dan menghasilkan metode penilaian yang baik dalam rangka perbaikan pembelajaran kimia pada khususnya

E.      Kerangka Berfikir
Berdasarkan KTSP yang mempunyai ciri utama bahwa pembelajaran berpusat pada siswa, maka siswa merupakan unsur utama dalam pembelajaran dan harus berperan aktif dalam meningkatkan keterampilan berfikir, salah satunya adalah keterampian proses sains. Menurut Zuharman (2000) perubahan paradigma pendidikan dari teacher centred kearah student centred tidak hanya membawa dampak terhadap metode dan aktifitas belajar, akan tetapi juga terhadap cara penilaian hasil belajar. Self assessment merespon perubahan ini dengan sangat baik. Dengan mengevaluasi diri, tentu saja fokusnya bukan lagi kepada guru, tetapi kepada murid.
Proses pembelajaran kimia khususnya pada konsep kelarutan dan hasil kelarutan pada dasarnya haruslah dilakukan secara inkuiri. Pembelajaran tipe inkuiri menuntut siswa untuk dapat merancang peroleha pengetahuaanya secara mandiri. Dalam kegiatan praktikum tersebut keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dapat dikembangkan adalah keterampilan proses sains yang menuntut kerja eksperimental yang menuntut standar tinggi dalam penerapannya. Maka indikator keterampilan proses sains yang dapat dikembangkan adalah melakukan pengamatan, menafsirkan pengamatan, mengelompokan, meramalkan, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep.
Secara sistematis, kerangka pemikiran dalam penelitian adalah sebagai berikut:
Peningkatan Keterampilan Proses Sains
 
 















Gambar 1 Kerangka Pemikiran
F.            Definisi Operasional
Untuk menghindari salah pengertian dalam menafsirkan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka diperlukan penjelasan dari istilah-istilah tertentu dalam penelitian ini :
1.             Penerapan adalah pemanfaatan keterampilan dan pengetahuan baru.
2.             Self assessment  merupakan keterlibatan siswa dalam mengidentifikasi kriteria untuk diterapkan dalam belajar dan membuat keputusan mengenai pencapaian  kriteria tersebut. (Bound, 1995)
3.             Keterampilan proses sains adalah kemampuan-kemampuan dasar tertentu yang dibutuhkan untuk menggunakan dan memahami sains. Setiap keterampilan proses merupakan keterampilan intelektual yang khas yang digunakan oleh semua ilmuan, serta dapat digunakan untuk memahami fenomena apapun juga (Gagne dalam Dahar, 1996).
4.             Metode praktikum merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan (Arifin et.al, 2003).
5.             Kelarutan yaitu jumlah gram zat terlarut dalam 1L larutan jenuh (gram per liter). Pernyataan itu mengacu pada konsentrasi dalam larutan jenuh pada suhu tertentu (biasanya 25oC) (Chang, 2005:145).
6.             Hasil kali kelarutan ialah hasil kali konsentrasi molar dari ion-ion penyusunnya, di mana masing-masing dipangkatkan dengan koefisien stoikiometrinya di dalam persamaan kesetimbangan (Chang, 2005:147).

G.           Kajian Teoritik
1.             Self-Assessment
a.              Self assessment dalam pembelajaran
Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Menurut Laurie Brady dan Kerry Kennedy (2005) “self-assessment is a process by which student develop insight into their learning, and has become increasingly emphasized with the development of outcome-based education.” Bagian pertama dari definisi di atas menekankan bahwa self assessment adalah sebuah proses, yang melibatkan murid sebagai agen utamanya, dimana ia membangun wawasan terhadap proses pembelajaran mereka sendiri. Hal ini berbeda dari pandangan tradisional pendidikan menaruh murid dalam posisi pasif, atau penerima dari pengajaran guru termasuk dalam hal menilai hasil belajar mereka. Murid jarang sekali dilibatkan secara sadar dalam proses pemberian umpan balik terhadap hasil belajar mereka sendiri. Namun, sudah saatnya pandangan ini diganti. Murid sebagai salah satu pemeran utama berlangsungnya proses pendidikan seharusnya juga dilibatkan secara aktif dalam pengambilan umpan balik atas pencapaian suatu tujuan pembelajaran. Selain itu, definisi di atas juga menyebutkan bahwa self-assessment mulai ditekankan penggunaannya seiring perkembangan bidang pendidikan yang menggunakan outcome atau tujuan instruksional sebagai dasar perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran mereka.
Boud (1995) Self assessment  merupakan keterlibatan siswa dalam mengidentifikasi kriteria untuk diterapkan dalam belajar dan membuat keputusan mengenai pencapaian  kriteria tersebut.
Gordon (dalam Zulharman, 2007) menyatakan bahwa  self assessment merupakan bagian dari pembagian belajar dikelas, dimana tenaga pendidik dan peserta didik saling bekerja satu sama lain dalam proses pembelajaran. Kerja sama ini lah menjadi kunci keberhasilan dikelas, namun dalam hal ujian atau tes tidak bisa digunakan.
Menurut Issasc (1999) self assessment atau peer assessment dapat digunakan untuk beberapa hal, yaitu:
a.    Dapat membantu mengembangkan kemampuan siswa dalam menilai pekerjaan sendiri dan menentukan criteria penilaian yang digunakan secara kritis serta mengaplikasikan criteria tersebut setelah sebelumnya dinegosiasi bersama guru
b.    Membantu siswa meningkatkan mutu belajarnya dengan melihat kekurangan dan kelabihan pada proses dan hasil belajar sebelumnya.
c.    Sebagai salah satu cara untuk memberikan umpan balik atau pekerjaan siswa tanpa membebani pekerjaan guru.
d.   Sebagai salah satu menentukan nilai atau tingkata kemampuan siswa untuk tujuan sumatif.


Perbandingan self assessment dengan assessment lain disajikan pada Tabel 1 berikut ini :
Tabel 1. Perbandingan antara Self assessment dengan Assessment lain
Self assessment
Assessment lain
Berpusat pada siswa.
Tidak berpusat pada siswa (tidak
dilibatkan).
Kriteria penilaian jelas dan transparan
terhadap siswa.
Penilaian acuan norma. Kriteria
penilaian yang digunakan tidak
didiskusikan dengan siswa.
Memberikan kewenangan terhadap
siswa. Penilaian merupakan kebutuhan personal dalam pembelajaran.
Siswa terisolasi dari penilaian dan
proses pembelajaran.
Mendorong adanya penilaian deep
learning.
Mengembangkan penilaian surface
learning.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk merencanakan pembelajaran
Tidak memberikan kesempatan
kepada siswa untuk merencanakan
pembelajaran.
Adanya diskusi antara siswa dengan
guru mengenai kriteria penilaian.
Jarang terjadi diskusi antara siswa
dengan guru mengenai kriteria
penilaian.
Formatif feedback.
Kadang terjadi kesalahpahaman
feedback karena kurangnya
komunikasi antara guru dan siswa.
Adanya kesempatan untuk memperbaiki atau meninjau pembelajaran.
Merupakan hasil akhir penilaian
pembelajaran
Memberikan kesempatan yang baik
untuk assessment formatif.
Sedikit memberikan kesempatan untuk
assessment formatif.

Tabel 1. Perbandingan antara Self assessment dengan Assessment lain (Lanjutan)
Self assessment
Assessment lain
Meningkatkan rasa percaya diri siswa
Memberikan efek negatif terhadap
rasa percaya diri siswa
Meningkatkan kualitas kinerja dan
kualitas belajar siswa.
-
Kebanyakan merupakan task pembelajaran yang otentik.
Sebagian merupakan task pembelajaran yang otentik.
                                                                                       (Orsmond, 2004)
b.             Kelebihan dan Kelemahan Self assessment
Beberapa kelebihan self assessment (McAlpine, 2000; Orsmond, 2004), antara lain:
·      Meningkatkan tanggung jawab dan kemandirian siswa dalam membuat keputusan,
·      Mendorong siswa menjadi lebih kritis mengenai hasil kerjanya,
·      Meningkatkan fokus pada proses pembelajaran,
·      Mendorong aktivitas kerjasama antara guru dan siswa dalam pembelajaran dan penilaian,
·      Adanya feedback dapat memberikan motivasi pada pembelajaran,
·      Mendorong refleksi pada pembelajaran siswa,
·      Mendorong siswa sukses dalam lifelong learning,
·      Meningkatkan kemampuan metakognitif siswa.
Meskipun penggunaan self assessment memberikan manfaat seperti yang telah diuraikan di atas, self assessment juga mempunyai kelemahan (Ellington et al, 2005;Gordon, 2004; McAlpine, 2000) sebagai berikut:
·      Kurangnya kemampuan siswa dalam menilai diri sendiri,
·      Kejujuran adalah hal yang terpenting dalam pelaksanaan self assessment,
·      Siswa cenderung menilai lebih terhadap dirinya sendiri,
·      Siswa belum berpengalaman dalam melaksanakan self assessment sehingga
·      Diperlukan pelatihan secara intensif,
·      Siswa merasa khawatir jika hasil self assessment disebarkan kepada siswa lain.
c.              Prosedur Pelaksanaan Self assessment
Menurut Falchikov (Orsmond, 2004) prosedur pelaksanaan self assessment meliputi empat tahap yaitu persiapan, implementasi, follow-up, dan replikasi.
Tahapan-tahapan tersebut disajikan pada gambar 2.
·      Persiapan
Tahap ini diawali dengan pembuatan desain pembelajaran, kemudian desain tersebut disampaikan kepada siswa agar siswa memahami hal-hal yang harus dilakukan pada pembelajaran. Pemotivasian siswa dilakukan agar siswa dapat mengetahui tujuan dan manfaat pelaksanaan self assessment (Zulharman, 2003). Kriteria penilaian harus didiskusikan terlebih dahulu dengan siswa. Dengan adanya diskusi kriteria, siswa merasa menjadi bagian dalam suatu penilaian dan akan lebih memahami maksud kriteria penilaian jika kriteria tersebut dikembangkan oleh siswa sendiri (Bostock; 2000). Sebagian besar siswa tidak berpengalaman dalam penilaian. Oleh karena itu terdapat pelatihan self assessment penting dilakukan sebelum tahap implementasi.

 














Gambar 2. Tahapan Pelaksanaan Self assessment menurut Falchikov (Orsmond, 2004)
·      Implementasi
Falchikov (Orsmond, 2004) mengungkapkan pada tahap implementasi, kriteria penilaian yang telah disepakati digunakan untuk menilai diri sendiri. Komunikasi hasil penilaian juga penting dilaksanakan sebagai perbaikan pada pembelajaran selanjutnya.
·      Follow-up dan Evaluasi
Menurut Falchikov (Orsmond, 2004), feedback diperoleh dari hasil penilaian self assessment. Feedback tersebut dianalisis untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi pada pelaksanaan self assessment.
·      Replikasi
Falchikov (Orsmond, 2004) menyatakan bahwa siswa akan terbiasa dalam melakukan self assessment jika proses ini dilakukan secara berkelanjutan. Menurut Spiller (2009) proses pelaksanaan self assessment harus mencakup:
a)    Penjelasan tujuan dan prosedur self assessment.
b)   Memberikan penghargaan terhadap hasil self assessment tanpa ada rasa takut pada siswa akan terungkapnya hasil penilaian tersebut yang dapat digunakan untuk melawan mereka.
c)    Siswa harus dilibatkan dalam penentuan kriteria penilaian.
d)   Self assessment dapat digabung dengan peer assessment dan penilaian guru.
e)    Self assessment dapat diintegrasikan dalam pembelajaran dengan menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi atau merefleksikan kemajuan hasil belajar.
f)    Siswa dapat diminta untuk memonitor kemajuan dalam mencapai suatu keterampilan berdasarkan kriteria penilaian.
g)   Siswa memerlukan latihan dan bimbingan dalam mengembangkan kemampuan self assessment.
2.             Keterampilan Proses Sains
Gagne menyatakan keterampilan proses sains adalah kemampuan-kemampuan dasar tertentu yang dibutuhkan untuk menggunakan dan memahami sains. Setiap keterampilan proses merupakan keterampilan intelektual yang khas yang digunakan oleh semua ilmuan, serta dapat digunakan untuk memahami fenomena apapun juga (Dahar, 1996).
Keterampilan proses sains terdiri dari sejumlah indikator yang menggambarkan proses memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan kemampuan yang telah dimiliki. Menurut Dahar indikator keterampilan proses sains terdiri dari mengamati, menafsirkan pengamatan, meramalkan, menggunakan alat/bahan, menerapkan konsep, merencanakan penelitian, berkomunikasi, dan mengajukan pertanyaan (Hermita, 2008).
Menurut Semiawan (1992) keterampilan proses sains meliputi observasi (menghitung, mengukur, mengklasifikasi), mencari hubungan ruang/waktu, membuat hipotesis, merencanakan penelitian, mengendalikan variabel, interpretasi, menyusun kesimpulan sementara, meramalkan, menerapkan dan mengkomunikasikan (Hermita, 2008). Peter (dalam Hermita, 2008) menyebutkan ada enam aspek keterampilan proses, meliputi: observasi, klasifikasi, pengukuran, mengkomunikasikan, memberikan penjelasan atau interpretasi terhadap suatu pengamatan, melakukan eksperimen ( Hermita, 2008).
Berikut ini klasifikasi  keterampilan proses sains :
Tabel 2. Indikator keterampilan proses dan karakteristiknya
NO.
KETERAMPILAN PROSES SAINS
KARAKTERISTIKNYA
1
Melakukan pengamatan ( observasi )
v  Mengidentifikasi persamaan dan perbedaan yang nyata pada objek
v  Mencocokan gambar dengan uraian tulisan atau gambar/benda
v  Menggunakan indera penglihatan, pembau, pendengar, pengecap, dan peraba
v  Menggunakan fakta yang relevan dan memadai
2
Menafsirkan pengamatan (interpretasi)
v  Mencatat hasil pengamatan
v  Menghubung-hubungkan hasil pengamatan
v  Menemukan pola atau keteraturan dari suatu seri pengamatan
v  Menyimpulkan
3
Mengelompokan (klasifikasi)
v  Mencari perbedaan
v  Mengkontraskan ciri-ciri
v  Mencari kesamaan
v  Membandingkan
v  Mencari dasar penggolongan
4
Meramalkan (prediksi)
v  Mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu kecenderungan atau pola yang sudah ada
5
Berkomunikasi
v  Membaca grafik, tabel, atau diagram
v  Menjelaskan hasil percobaan
v  Menyusun dan menyampaikan laporan sistematis dan jelas
Tabel 2. Indikator keterampilan proses dan karakteristiknya (lanjutan)
NO.
KETERAMPILAN PROSES SAINS
KARAKTERISTIKNYA
6
Berhipotesis
v  Menyatakan hubungan antara dua variabel atau memperkirakan penyebab terjadinya sesuatu
7
Merencanakan percobaan
v  Menentukan alat dan bahan
v  Menentukan variabel atau perubah
v  Menentukan variabel kontrol dan variabel bebas
v  Menentukian apa yangg diamati, diukur, atau ditulis
v  Menentukan cara dan lanngkah kerja
v  Menentukan cara mengolah data
8
Menerapkan konsep
v  Menjelaskan suatu peristiwa dengan menggunakan konsep yang sudah dimiliki
v  Menerapkan konsep yang baru yang telah dipelajari dalam situasi yang baru
9
Mengajukan pertanyaan
v  Meminta penjelasan mengenai apa, bagaimana, dan mengapa
v  Bertanya untuk meminta penjelasan
v  Pertanyaan yang dilakukan dapat meminta penjelasan tentang apa, bagaimana dan mengapa ataupun menanyakan latar belakang hipotesis
10
Menggunakan alat dan bahan
v  Mengetahui mengapa menggunakan alat dan bahan
v  Mengetahui bgaimana menggunakan alat dan bahan
(Rustaman, 2003).


Depdiknas (2006) menyebutkan bahwa ilmu kimia dibangun melalui pengembangan keterampilan-keterampilan proses sains yaitu :
1.    Mengobservasi atau mengamati, termasuk didalamnya menghitung,, mengukur, mengklasifikasi dan mencari hubungan tuang/waktu.
2.    Menyusun hipotesia.
3.    Merencanakan penelitian/eksperimen.
4.    Memanipulasi variabel.
5.    Menafsirka data.
6.    Menyusun kesimpulan sementara (interferensi)
7.    Meramalkan atau memprediksi.
8.    Menerapkan dan mengaplikasikan dan
9.    Mengkomunikasikan.
3.             Kegiatan Praktikum
Praktikum memiliki kedudukan yang penting dalam pembelajaran sains. Menurut Dahar (1986) praktikum adalah pelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan serangkaian keterampilan proses IPA dengan cara penyampaian percobaan di laboratorium. Keterampilan proses IPA sendiri meliputi : mengamati, menafsirkan, mengklasifikasikan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep,merencanakan percobaan, berkomunikasi dan mengajukan pertanyaan. Arifin et.al. (2003) mengemukakan bahwa metode praktikum merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Kegiatan praktikum akan memberikan makna apabila kegiatan tersebut direncanakan dengan baik, memberi kesempatan untuk memilih prosedur alternatif, merancang eksperimen, mengumpulkan data dan menginterpretasikan data yang diperoleh. Untuk dapat melaksanakan praktikum dengan tuntutan tersebut diperlukan keterampilan berpikir atau intelektual skill. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam praktikum, siswa perlu menggunakan prosedur yang logis dan strategis (Arifin et.al, 2003).
Menurut Arifin (2003), keuntungan menggunakan metode eksperimen atau praktikum adalah sebagai berikut:
·           Dapat menggambarkan keadaan yang konkret tentang suatu peristiwa.
·           Siswa dapat mengamati proses.
·           Siswa dapat mengembangkan keterampilan inkuiri.
·           Siswa dapat mengembangkan sikap ilmiah.
·           Membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran lebih efektif dan efisien.
Menurut Rustaman (2003), praktikum merupakan bagian integral dari pembelajaran sains. Melalui kegiatan percobaan hampir semua jenis keterampilan proses dikembangkan dan digunakan.
4.             Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
a.    Kelarutan (s)
Menurut Chang (2005 : 147) terdapat dua kuantitas yang menyatakan kelarutan zat : kelarutan molar, yaitu jumlah zat terlarut dalam 1L larutan jenuh (mol per liter), dan kelarutan, yaitu jumlah gram zat terlarut dalam 1L larutan jenuh (gram per liter). Pernyataan itu mengacu pada konsentrasi dalam larutan jenuh pada suhu tertentu (biasanya 25oC).
b.   Hasil kali Kelarutan
Menurut Chang (2005 : 145) hasil kali kelarutan ialah hasil kali konsentrasi molar dari ion-ion penyusunnya, di mana masing-masing dipangkatkan dengan koefisien stoikiometrinya di dalam persamaan kesetimbangan.
Misalnya larutan jenuh perak klorida yang bersentuhan dengan perak klorida padat. Kesetimbangan kelarutannya dapat dinyatakan sebagai
                    AgCl(s)  Ag+(aq) + Cl-(aq)
Karena garam seperti AgCl dianggap sebagai elektrolit kuat, semua AgCl yang larut dalam air dianggap terurai sempurna menjadi ion Ag+ dan Cl-. Kita mengetahui bahwa reaksi heterogen, konsentrasi padatan adalah konstanta. Jadi kita dapat menuliskan konstanta kesetimbangan untuk pelarutan AgCl sebagai
Ksp AgCl =  [Ag+][Cl-]
Dimana Ksp disebut konstanta hasil kali kelarutan atau ringkasnya hasil kali kelarutan.
c.    Pengaruh Ion Sejenis Terhadap Kelarutan
Reaksi kesetimbangan larutan AgCl adalah sebagai berikut:
    AgCl(s Ag+(aq) + Cl- (aq)
Dengan menggunakan nilai Ksp, dapat dihitung kelarutan senyawa dalam larutan yang mengandung ion sejenis. Konsentrasi suatu ion dalam larutan bergantung pada jumlah totalnya, tanpa membedakan asalnya. Sebagai contoh larutan yang mengandung NaCl dan AgCl, maka konsentrasi Cl- adalah jumlah yang berasal dari NaCl dan AgCl , sedangkan Ag+ hanya dari AgCl.

d.        Pengaruh pH terhadap Kelarutan
Tingkat keasaman larutan (pH) dapat mempengaruhi kelarutan dari berbagai jenis zat. Suatu basa umumnya lebih larut dalam larutan yang bersifat asam, dan sebaliknya lebih sukur larut dalam larutan yang bersifat basa. Garam-garam yang berasal dari asam lemah akan lebih mudah larut dalam larutan yang bersifat asam kuat.
·      pH dan Kelarutan Basa
Sesuai dengan efek ion sejenis, suatu basa akan lebih sukar larut dalam larutan yang bersifat basa daripada dalam larutan netral.
·      pH dan Kelarutan Garam
Kalsium karbonat (CaCO3) sukar larut dalam air, tetapi larut dalam larutan HCl. Fakta ini dapat diterangkan sebagai berikut: Dalam larutan jenuh CaCO3 terdapat kesetimbangan sebagai berikut :
CaCO3 (s)   Ca2+(aq)  +  CO32-(aq)
Dalam larutan asam, ion CO32- akan diikat oleh ion H+ membentuk HCO3- atau H2CO3. H2CO3 selanjutnya akan terurai membentuk CO2 dan H2O. hal ini akan menggeser kesetimbangan di atas ke kanan. Dengan kata lain menyebabkan CaCO3 melarut.


e.         Reaksi Pengendapan
Kita dapat mengeluarkan suatu ion dari larutannya melalui reaksi pengendapan. Misalnya, ion Kalsium (Ca2+) dapat dikeluarkan dengan menambahkan larutan Na2CO3. dalam hal ini, ion Ca2+ akan bergabung dengan ion karbonat (CO32-) membentuk CaCO3, suatu garam yang sukar larut, sehingga mengendap.
Ca2+(aq)  +  CO32- (aq)  ® CaCO3(s)
Contoh lainnya yaitu mengendapkan ion Cl- dari air laut dengan menambahkan larutan perak nitrat (AgNO3). Ion Cl- akan bergabung dengan ion Ag+ membentuk AgCl yang sukar larut.
Cl-(aq) + Ag+(aq)  ® AgCl(s)
Sebagaimana telah dipelajari ketika membahas kesetimbangan kimia, hasil kali konsentrasi seperti dirumuskan dalam rumus tetapan kesetimbangan (bukan konsentrasi setimbang) kita sebut sebagai Qc. Jadi secara umum, apakah keadaan suatu larutan belum jenuh, jenuh, atau terjadi pengendapan, dapat ditentukan dengan memeriksa nilai Qc-nya dengan ketentuan sebagai berikut.
Jika Qc < Ksp, larutan belum jenuh
Jika Qc = Ksp, larutan tepat jenuh
Jika Qc > Ksp, terjadi pengendapan




H.           Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah melalui penerapan self assessment  pada praktikum konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa kelas XI IPA SMAN 20 Garut.

I.              Metodologi Penelitian
1.             Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kelas. Metode ini berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberikan gambaran mengenai penerapan self assessment dalam menilai kinerja siswa SMA kelas XI pada praktikum Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan (Ksp).
2.             Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMA kelas XI IPA di SMA Negeri 20 Garut.
3.             Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk melihat penerapan self assessment pada siswa SMA kelas XI dalam menilai kinerja pada praktikum Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Alur penelitian digambarkan ke dalam bagan seperti yang terlihat pada gambar 3. Pada penelitian ini dilakukan tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap analisis.



Gambar 3. Diagram Prosedur Penelitian Drawing14.jpg

4.             Tahap Pelaksanaan Penelitian
Berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan, tahap pelaksanaan penelitian ini terdiri dari enam tahapan yaitu tahap pemotivasian siswa, pelatihan self assessment, pelaksanaan self assessment, pengkomunikasian hasil, pemberian feedback, dan pemanfaatan hasil.
a.    Tahap pemotivasian siswa
Pada tahap ini siswa diberi informasi mengenai pengertian self assessment selain itu tujuan dan manfaatnya diinformasikan kepada siswa. Hal ini berguna agar siswa lebih terarah dalam melakukannya, karena mereka mengetahui apa tujuan dan manfaatnya. Pada tahap pemotivasian ini siswa masih tampak bingung dikarenakan mereka baru mengetahui adanya asesmen menggunakan self assessment.
b.    Tahap pelatihan self assessment
Pada tahap ini peneliti menjelaskan prosedur pelaksanaan untuk asessment kinerja menggunakan self assessment. Sehingga diharapkan siswa tidak kebingungan pada pelaksanaan praktikum Kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) maupun pada pelaksanaan asesmennya. Di samping itu peneliti juga memberitahukan aspek penilaian kepada siswa dan siswa diminta memberi masukan terhadap kriteria kinerja yang mereka anggap perlu. Usulan kriteria dari siswa disesuaikan dengan kebutuhan asesmen untuk kriteria kinerja. Di akhir pertemuan siswa diberi tugas untuk mencari sendiri prosedur praktikum Kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).

c.       Tahap pelaksanaan self assessment
Pada tahap pelaksanaan ini dilakukan praktikum Kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) secara berkelompok. Sebanyak 30 orang siswa dibagi ke dalam 6 kelompok yang telah ditentukan dan masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang siswa. Pemilihan anggota siswa dalam kelompok didasarkan pada pertimbangan nilai ulangan kimia sebelumnya. Ketika melakukan praktikum Kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp), kinerja setiap siswa dalam kelompok dinilai oleh seorang observer yang diperlukan sebagai pembanding terhadap asesmen yang dilakukan oleh siswa. Setelah praktikum selesai dilaksanakan siswa mengisi rubrik self assessment yang diberikan.
d.      Tahap pengkomunikasian hasil
Pada tahap ini hasil penilaian berdasarkan rubrik self assessment dan berdasarkan observer dikomunikasikan kepada siswa sehingga siswa mengetahui hasil penilaian. Selain itu siswa mengetahui kekurangan mereka dalam kinerja praktikum Kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).
e.       Tahap pemberian feedback
Tahap pemberian feedback adalah yang penting dalam pelaksanaan self assessment karena dengan adanya self assessment diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam kinerja dan juga keinginannya untuk memperbaiki proses belajaranya dapat tumbuh.



f.       Tahap pemanfaatan hasil
Hasil dari self assessment diharapkan dapat mengungkap kinerja siswa pada praktikum Kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) dan dapat berkontribusi pada nilai akhir siswa atau biasa disebut nilai sumatif.
g.       Tahap Analisis
Seluruh data penelitian yang telah diperoleh kemudian dianalisis. Hasil analisis tersebut dihubungkan dengan literatur yang ada sehingga dapat dibuat kesimpulan mengenai penerapan self assessment dalam menilai kinerja praktikum yang telah dilakukan.
5.             Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode (Arikunto, 1998:137).Dalam hal ini,instrumen yang dipergunakan adalah:
a.    Deskripsi pembelajaran
Pembelajaran dilakukan dengan penerapan self assessment pada praktikum konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).
b.    Soal evaluasi
Soal evaluasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan keterampilan proses sains siswa.
c.    Rubrik pelaksanaan self assessment pada kegiatan praktikum
Lembar assessment ini berbentuk daftar cek (check list) yang diisi oleh siswa sendiri. Didalamnya berisi indikator-indikator keterampilan proses sains  yang muncul selama kegiatan praktikum berlangsung. Lembar kerja ini mengacu kepada praktikum kelarutan.
d.   Format observasi
Format observasi memuat isi yang sama dengan format rubrik self assessment. Namun, format observasi digunakan oleh observer untuk menilai kinerja siswa dan sebagai pembanding dari hasil rubrik self assessment.
e.    Angket siswa
Tujuannya adalah untuk mengetahui mengenai pelaksanaan self assessment dan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelaksanaan self assessment.
f.     Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelaksanaan self assessment dan juga keluhan siswa mengenai self assessment. Format wawancara berisi 13 pertanyaan dan lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran.
6.             Pengumpulan dan Analisis Data
a.    Pengumpulan Data
Hubungan antara data yang diperlukan, sumber data, metode pengumpulan data dan instrumen pengumpul data sangat penting diketahui agar penelitian lebih terarah. Sehingga dibuat kisi-kisi pelaksanaan penelitian yang tertuang dalam Tabel 3.



Tabel 3. Kisi-kisi pelaksanaan penelitian
No.
Data yang diperlukan
Sumber data
Metode pengumpulan data
Instrumen
1
Pemberian Pretest
Siswa yang mengerjakan pretest
pretest
Lembar pretest
2
Pelaksanaan
self assessment
Kegiatan self
assessment.
Observasi
Catatan penelitian
Siswa yang
melakukan self
assessment
Angket
Angket
Wawancara
Format wawancara
3
Self assessment dapat mengungkap
kinerja siswa.
Siswa yang
melakukan self
assessment.
Pengisian Rubrik
self assessment
Rubrik
self assessment
Observer
Pengisian format
observasi untuk
observer
Format observasi
4
Kemampuan
self assessment
Siswa yang
melakukan self
assessment.
Pengisian Rubrik
self assessment
Rubrik
self assessment
Angket
Angket
Wawancara
Wawancara
Observer
Pengisian format
observasi untuk
observer
Format observasi
5
Pemberian posttest
Siswa yang melakukan post test
Pengisian post test
Lembar post test
6
Kendala yang ditemukan pada
pelaksanaan
self assessment
Kegiatan self
assessment.
Observasi
Catatan penelitian.
Siswa yang
melakukan self
assessment.
Angket
Angket
Wawancara
Wawancara
7
Tanggapan siswa
Siswa yang
melakukan self
assessment.
Angket
Angket
Wawancara
Wawancara
                                                                          
7.             Pengolahan Data
Setelah pengumpulan data selesai, langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut. Langkah-langkah untuk analisisnya adalah sebagai berikut:
a.    Uji Normalitas
Asumsi normalitas merupakan prasyarat kebanyakan prosedur statistika inferential. Pada penelitian ini asumsi normalitas dieksplorasi menggunakan uji normalitas Lilliefors (Kolmogorov Smirnov) melalui SPSS 18 dengan taraf signifikansi α = 0,05. Bentuk hipotesis untuk uji normalitas adalah sebagai berikut:
H0 : angka signifikan (Sig) <  0,05, maka data tidak berdistribusi normal
H1 : angka signifikan (Sig) > 0,05, maka data berdistribusi normal
Dalam pengujian hipotesis, kriteria untuk menolak atau tidak menolak H0 berdasarkan P-value adalah jika P-value< α maka H0 ditolak dan jika P-value³ α maka H0 tidak dapat ditolak. Dalam program SPSS 18 digunakan istilah significance yang disingkat Sig untuk P-value, dengan kata lain P-value = Sig.
b.   Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui distribusi data, apakah homogen atau tidak homogen. Akdon (2008) merincikan langkah-langkah uji homogenitas sebagai berikut:
1)             Mencari nilai varian terbesar dan terkecil dengan rumus:
­
2)             Membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel dengan kriteria; jika  Fhitung < Ftabel, maka varians adalah homogen, dan uji komparatif dapat dilakukan.





c.              Data Rubrik Pelaksanaan Self assessment
1)   Menganalisis pelaksanaan self assessment menggunakan data hasil angket, wawancara, dan catatan penelitian ke dalam masing-masing tahapan self assessment yang sesuai.
2)   Kendala-kendala yang timbul saat pelaksanaan self assessment dapat diketahui dari hasil analisis rubrik pelaksanaan self assessment dan juga catatan penelitian.
3)   Melakukan interpretasi terhadap data rubrik pelaksanaan self assessment.
d.             Data Kemampuan Self assessment
1)   Mentabulasi data yang berasal dari rubrik self assessment dan juga asesmen yang dilakukan observer terhadap kinerja praktikum.
2)   Membandingkan asesmen yang dilakukan oleh siswa dan observer dengan cara menjumlahkan hasil asesmen berdasarkan siswa yang sesuai dengan observer.

                %X      = Nilai persen yang dicari atau diharapkan
R         = Jumlah penilaian siswa yang sesuai dengan observer
SM      = Jumlah kriteria penilaian
(Purwanto, 2006:3)
3)   Hasil pengolahan selanjutnya dianalisis guna mengetahui kemampuan self assessment siswa pada kegiatan praktikum dengan kategori sebagai berikut:

Tabel 5. Skala Kategori Kemampuan Self assessment
No.
Skala Kemampuan Self assessment
Kategori
1
86%-100%
Sangat Baik
2
76%-85%
Baik
3
60%-75%
Cukup
4
46%-59%
Kurang
5
45%
Kurang Sekali
                                                                                  (Asih, 2010)
4)   Menghitung persentase jumlah siswa untuk setiap kategori self assessment kemampuan dengan menggunakan rumus:
X            = Persentase yang dicari
f             = Banyaknya siswa pada tiap kemampuan
N            = Total jumlah siswa
e.              Data Self assessment untuk Mengungkap Kinerja
1)   Menghitung jumlah kriteria yang dilakukan siswa berdasarkan hasil asesment siswa dan hasil asesmen oleh observer. Kemudian dihitung persentasenya menggunakan rumus:
%X  = Nilai persen yang dicari atau diharapkan
R      = Jumlah penilaian siswa yang sesuai dengan observer
SM   = Jumlah kriteria penilaian
(Purwanto, 2006:3)
Persentase penilaian oleh observer juga sama menggunakan rumus yang sama dengan rumus di atas.
2)   Mengkategorikan penilaian berdasarkan siswa dan observer menggunakan tabel kategori di bawah ini.
Tabel 6 Skala Kategori Kemampuan Self assessment
No.
Skala Kemampuan Self assessment
Kategori
1
86%-100%
Sangat Baik
2
76%-85%
Baik
3
60%-75%
Cukup
4
46%-59%
Kurang
5
45%
Kurang Sekali
                                                                      (Asih, 2010)
3)   Menghitung persentase jumlah siswa dalam setiap kategori self assessment baik menurut siswa maupun observer dengan menggunakan rumus:
X      = Persentase yang dicari
f       = Banyaknya siswa pada tiap kemampuan
N      = Total jumlah siswa
4)   Menganalisis data hasil kategorisasi tersebut dengan cara membandingkan persentase jumlah siswa dalam setiap kategori berdasarkan penilaian siswa dan observer.
f.              Data Hasil Angket Siswa
1)   Mentabulasi jawaban angket.
2)   Menghitung persentase jawaban siswa untuk setiap pertanyaan pada angket dengan cara:

3)      Melakukan interpretasi terhadap jawaban angket dengan cara membuat penafsiran sebagai berikut:
Tabel 7 Skala Kategori Jawaban Angket Siswa
No.
Persentase Siswa Menjawab “Ya”
Kategori
1
0%
Tidak Satupun
2
1%-30%
Sebagian Kecil
3
31%-49%
Hampir Separuhnya
4
50%
Separuhnya
5
51%-80%
Sebagian Besar
6
81%-99%
Hampir Seluruhnya
7
100%
Seluruhnya
(Koentjaraningrat dalam Asih 1990)
8.             Jadwal Penelitian
No.
Kegiatan
Bulan
Des
Jan
Peb
Mar
Apr
Mei
1
Studi Pendahuluan





2
Pengajuan Proposal





3
Perbaikan Proposal





4
Bimbingan



5
Pembuatan dan Perbaikan Media



6
Implementasi Penelitian




7
Pengolahan dan Analisis Data





8
Penulisan Laporan
-    Bab I
-    Bab II
-    Bab III
-    Bab IV
-    Bab V


















DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M. dkk.(2003). Strategi Belajar Mengajar Kimia. Common Textbook (Edisi Revisi).Bandung: Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.
Asih. (2010). Pemanfaatan jejaring facebook dalam self assessment online untuk menilai sikap ilmiah siswa pada hasil kerja praktikum pencemaran air. Skripsi UPI. Bandung : tidak diterbitkan
Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta
Boud, David. (1995). Enhancing Learning Through Self assessment. London: Kogan Page
Bostock, S.(2004). Peer Assessment. Tersedia: http://www.iml.uts.edu.au [28 November 2011].
Brady, Laurie dan Kerry Kennedy. Celebrating Student Achievement: Assessment and Reporting. Frenchs Forest: Pearson Education Australia, 2005.
Chang, Raymond. 2004. KIMIA DASAR konsep konsep inti. Edisi ke tiga. Jakarta: Erlangga
Dahar, R. W. (1996). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga
Firman, H.(2000). Penilaian Hasil Belajar dalam Pengajaran Kimia. Bandung: Jurusan Penididikan Kimia FPMIPA UPI.
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally


Hake, R. R. 1998.Interactive-Engagement Versus Traditional Methods: A Sixthousand-Student Survey of Mechanics Tes Data for Introductory PhysicsCourses.Indiana: Indiana University, Bloomingtoon. [Online]. Tersedia:http://ajp.aapt.org/resource/1/ajpias/v66/i1/p64_s1?isAuthorized=no.
Hermita, Neni. 2008. Pembelajaran IPA dengan model inkuiri terbimbiing untuk meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan proses sains siswa sekolah dasar. Tesis magister pendidikan IPA konsentrasi IPA SD. Sekolah lanjutan UPI Bandung. Tidak diterbitkan
Isaacs, G. (1999) Peer and Self assessment. [Online]. Tersedia: http://www.tedi.uq.edu.au (28 November 2011).
Karamustafaoğlu, Sevilay.(2011). Improving the Science Process Skills Ability of Science Student Teachers Using I Diagrams. Tersedia : Eurasian Journal Of Physics and Chemistry Education. 3(1):26-38, 2011 (Tersedia : http://www.eurasianjournals.com)
Marzano, Robert J., Debra Pickering dan Jay McTighe. Assessing Student Outcomes: Performance Assessment Using the Dimensions of Learning Model. Alexandria: ASCD (Association for Supervision and Curriculum Development), 1993.
Mei, Grace, T. (2007). Promoting Science Process Skills and The Relenvance Of  Sccience Through Science Alive! Programme.
Onder, Ismail.  Geban, Omer. 2006. The Effect of Conceptual Change Texts Oriented Instruction on Students' Understanding of  The Solubility Equlibrium Concept. Ankara : Hacettepe Unversitesi Journal of Education. Vol. 30. 166-177. (Tersedia : http://www.efdergi.hacettepe.edu.tr. [14 Oktober 2011]
Orsmond, P.(2004). Self and Peer-Assessment: Guidance on Practice in the Biosciences.  Tersedia: http://www.bioscience.heacademy.ac.uk [28 November 2011].
Rotbain, Y., et.al. 2006. Effect of Bead and Illustrations Models on High School Students’’ Achievement in Molecular Genetics. JOURNAL OF RESEARCH IN SCIENCE  TEACHING. 43(5) 500 – 529.
Sudjana, N. dan Ibrahim. (2004). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Spiller, Dorothy. (2009). Assessment Matters:Self-Assessment and Peer Assessment. The University of WAIKATO.
Zulharman.(2007). Self dan Peer Assessment sebagai penilaian formatif  dan sumatif. Tersedia: http://zulharman79.wordpress.com [28 November 2011].

0 komentar:

Poskan Komentar

Contact Us !

konten

Tracking

Custumer Support

Product :

Total Tayangan Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Pengikut

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cari Blog Ini

Memuat...